Tahukah engkau wahai yang mampu meluluhkan hatiku?
Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucinta,
Namun....
kepadamu lisan ini seolah terkunci.
Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu.
Walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah ia yang engkau cinta,
meski itu hanya sebagian prasangkaku.
Jika boleh aku beralasan,
mungkin aku hanya takut engkau akan menjadi “illah” bagiku,
karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam,
mendorong lagi.....,
dan lagi.....,
hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan,
dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.
Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia,
dan tak ada aku dalam kamus cintamu,
sakit terasa.....,
sakit memang dan begitu amat perih.
Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku.
Ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku,
dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.
Twitter
Facebook
Flickr
RSS
