Bukan dari tulang ubun ia diciptakan,
sebab bahaya menjadikannya dalam sanjung dan puja.
Tak juga dari tulang kaki,
sebab nista menjadikannya diinjak dan diperbudak.
Tetapi dari tulang rusuk kiri,
dekat dengan hati untuk dicintai,
dan dekat dengan lengan untuk dilindungi.
5/24/2009
5/01/2009
Cinta
Cinta adalah sesuatu yang menakjubkan.
Kita tidak perlu mengambilnya dari seseorang untuk diberikan kepada orang lain.
Kita selalu memilikinya lebih dari cukup untuk diberikan kepada orang lain.
Kita tidak perlu mengambilnya dari seseorang untuk diberikan kepada orang lain.
Kita selalu memilikinya lebih dari cukup untuk diberikan kepada orang lain.
PENANTI
Kita adalah penanti yang selalu lupa.
Harta dunia tak'kan kita bawa ke pusara abadi.
Kita adalah penanti yang kerap tak menyadari.
Masa merangkak perlahan tapi amat pasti.
Sikap kita sebagai penanti, mengharap setinggi gunung.
Bila tak sampai, menyalahkan Ilahi.
Dosa kita sebagai penanti, bila dikaruniai rahmat,
lupa berterima kasih.
Telah menjadi hukum hidup, dugaan kita adalah menanti.
Karena itu di dalam penantian, jangan lupa sesuatu yang pasti.
Sesuatu yang pasti bernama MATI.
Harta dunia tak'kan kita bawa ke pusara abadi.
Kita adalah penanti yang kerap tak menyadari.
Masa merangkak perlahan tapi amat pasti.
Sikap kita sebagai penanti, mengharap setinggi gunung.
Bila tak sampai, menyalahkan Ilahi.
Dosa kita sebagai penanti, bila dikaruniai rahmat,
lupa berterima kasih.
Telah menjadi hukum hidup, dugaan kita adalah menanti.
Karena itu di dalam penantian, jangan lupa sesuatu yang pasti.
Sesuatu yang pasti bernama MATI.
HIDUP
Hidup ini...
Ibarat sebuah cerita.
Berawal dan berakhir, bersejarah dan mengalir.
Namun.....
Adakah semua berjalan seperti coretan awal Si Penulis ?
Bagaimanakah jika hidup ini ternyata sebuah tulisan yang masih dalam proses penyelesaian, belum tahu apa yang akan terjadi?
Akankah berakhir bahagia?
Akankah berakhir sedih?
Akankah berakhir tanpa akhir?
Kemudian.....
Sudah dibait manakah cerita ini hidup?
Kesedihan bagaimana yang menanti?
Kebahagiaan apa yang akan menjelang?
Gejolak rasa apa lagi yang akan dialami?
Dan......
Siapakah Si Pembaca ini ?
Kenapa ia membaca cerita ini?
Adakah karena resensi tertulis?
Ataukah karena sampul yang menarik?
Atau.......
Karena tidak ada pilihan lain ?
Ibarat sebuah cerita.
Berawal dan berakhir, bersejarah dan mengalir.
Namun.....
Adakah semua berjalan seperti coretan awal Si Penulis ?
Bagaimanakah jika hidup ini ternyata sebuah tulisan yang masih dalam proses penyelesaian, belum tahu apa yang akan terjadi?
Akankah berakhir bahagia?
Akankah berakhir sedih?
Akankah berakhir tanpa akhir?
Kemudian.....
Sudah dibait manakah cerita ini hidup?
Kesedihan bagaimana yang menanti?
Kebahagiaan apa yang akan menjelang?
Gejolak rasa apa lagi yang akan dialami?
Dan......
Siapakah Si Pembaca ini ?
Kenapa ia membaca cerita ini?
Adakah karena resensi tertulis?
Ataukah karena sampul yang menarik?
Atau.......
Karena tidak ada pilihan lain ?
4/27/2009
Kutipan
Ketika hatiku mengeras dan jalanku menyempit,
Kujadikan harapan-harapanku sebagai titian menuju ampunan-Mu .
Dosaku begitu besar, namun, kubandingkan dengan ampunan-Mu,
Ternyata ampunan-Mu lebih besar.
Engkau selalu mengampuni dosa,
Dan Engkau selalu bermurah hati
dan pemaaf karena sifat-Mu yang Pemurah.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
(Al-Syafii)
Kujadikan harapan-harapanku sebagai titian menuju ampunan-Mu .
Dosaku begitu besar, namun, kubandingkan dengan ampunan-Mu,
Ternyata ampunan-Mu lebih besar.
Engkau selalu mengampuni dosa,
Dan Engkau selalu bermurah hati
dan pemaaf karena sifat-Mu yang Pemurah.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
(Al-Syafii)
Twitter
Facebook
Flickr
RSS
